Sebuah Tanya
Akhirnya semua akan tiba
pada suatu hari yang biasa
Pada suatu ketika yang telah lama
kita ketahui
Apakah kau masih selembut dahulu
Memintaku minum susu dan tidur yang
lelap ?
Sambil membenarkan letak leher
kemejaku
Kabut tipis pun turun pelan pelan
di Lembah Kasih , Lembah Mandalawangi
Kau dan aku tegak
berdiri
Melihat hutan-hutan
yang menjadi suram
Meresapi belaian angin
yang menjadi dingin
Apakah kau masih
membelaiku semesra dahulu
Ketika kudekap
Kau dekaplah lebih
mesra, Lebih dekat
lampu-lampu berkelipan di Jakarta
yang sepi
Kota kita berdua, yang tua dan
terlena dalam mimpinya
Kau dan aku berbicara
Tanpa kata, tanpa suara
Ketika malam yang basah menyelimuti
Jakarta kita
Apakah kau masih akan berkata
Kudengar derap jantungmu
Kita begitu berbeda dalam semua
Kecuali dalam cinta
hari pun menjadi malam
Kulihat semuanya
menjadi muram
Wajah-wajah yang tidak
kita kenal berbicara
Dalam bahasa yang kita
tidak mengerti
Seperti kabut pagi itu
Manisku, aku akan jalan
terus
Membawa
kenangan-kenangan dan harapan-harapan
Bersama hidup yang
begitu biru
Cahaya bulan menusukku
Dengan ribuan pertanyaan
Yang takkan pernah kutahu dimana
jawaban itu
Bagai letusan berapi
Membangunkanku dari mimpi
Sudah waktunya berdiri
Mencari jawaban kegelisahan hati
Referensi :
Rifai, Muhammad. Soe Hok Gie :
Biografi Sang Demonstran 1942 – 1969. Jogjakarta : Garasi House of Book, 2010.








0 komentar:
Posting Komentar